Aktual Berani Dan Terpercaya

Bahasa, Kode Etik Jurnalistik dan UU ITE

0 201

 

Oleh: Yunanto
Mustahil jurnalis berkualitas rendah mampu memproduksi karya jurnalistik bermutu tinggi. Konklusi tersebut tersirat di empat paragraf dalam mukadimah Kode Etik Jurnalistik (KEJ).

Diawali dengan terminologi kemerdekaan. Mukadimah KEJ dibuka dengan tiga macam kemerdekaan. Rincinya, (1) kemerdekaan berpendapat, (2) kemerdekaan berekspresi, (3) kemerdekaan pers.

Tiga macam kemerdekaan tersebut dilindungi idiologi negara (Pancasila) dan konstitusi (UUD 1945). Bahkan dilindungi Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia PBB. Itulah pasalnya KEJ menegaskan kemerdekaan pers adalah sarana masyarakat untuk memperoleh informasi.

Paragraf ketiga dan keempat dalam mukadimah KEJ mewajibkan jurnalis profesional. Landasan profesionalisme dimaksud adalah KEJ. Logis, sebab tanpa profesionalisme mustahil jurnalis mampu memenuhi hak publik memperoleh informasi.

Pertanyaan besar, kembali ke teras artikel  ini. Dalam memenuhi hak publik memperoleh informasi, mungkinkah jurnalis berkualitas rendah mampu memproduksi karya jurnalistik bermutu baik? Satu kata jawaban, “Mustahil.”

*Bahasa Jurnalistik*
Setiap hari saya melahap informasi dalam bentuk berita (straight news/spot news) yang dirilis berbagai media siber. Informasi dimaksud mayoritas saya akses melalui beberapa grup WhatsApp.

Saya cermati tiap warta yang dirilis dengan menggunakan tiga kacamata analisis sebagai parameternya. Rincinya, (1) kualitas bahasa jurnalistiknya, (2) tinggi-rendah daya mampu _”melek”_ hukum terkait dengan isi berita, (3) tinggi-rendah daya mampu menentukan kelayakan publikasi terkait dengan pembobotan nilai berita.

Jujur saja saya tuliskan, titik terlemah (terburuk) masih terletak di mutu bahasa jurnalistik. Entah, apa faktor penyebabnya. Kaidah berbahasa jurnalistik bukan hanya diabaikan, tapi dicampakkan, dinistakan!

Sangat memprihatinkan menyimak karya jurnalistik yang tidak mengindahkan kaidah berbahasa jurnalistik. Sulit saya terima karya jurnalistik berbahasa pidato pejabat, berbahasa humas, dan berbahasa _pasaran_.

Kasihan publik (khalayak komunikan media siber), jika tidak mendapatkan informasi dalam bentuk karya jurnalistik bermutu baik. Saya kerap menjerit, dalam hati, “Janganlah memaksakan diri menjadi jurnalis, jika merasa tidak mampu. Kecuali punya tekad membara meningkatkan kemampuan dengan cara belajar dan terus belajar.”

Masih amat mencolok. Kaidah berbahasa jurnalistik singkat, lugas, logis dan taat asas kata baku dicampakkan. Judul berita panjang menyerupai teras berita, karena lebih dari 15 kata. Kalimat pun panjang-panjang, lebih dari 20 kata per kalimat. Menyaingi kalimat panjang  kampanye politisi. Jelas sulit dicerna maknanya. Tentu sangat tidak enak dibaca. Aneh sekaligus “lucu”.  Ampun!