Antara Single Bar, Multi Bar, dan Duduk Sengketa Organisasi Advokat Peradi Yang Seakan Tak Ada Ujung


  • Bagikan

Jakarta,Online-indonesia.com – Sengketa kepengurusan Perhimpunan Advokat Indonesia (Peradi) kembali memanas. Dipicu putusan kasasi, Hotman Paris menyerang Ketua Umum Peradi, Otto Hasibuan. Sengketa yang belum menunjukan titik ujung.

Berikut duduk perkara sengketa Peradi yang dirangkum Wartawan Jumat (22/4/2022):

2003 Lahir UU Nomor 18 Tahun 2003 tentang Advokat. Salah satunya mengatur soal organisasi tunggal (single bar)

2005 Otto Hasibuan terpilih menjadi Ketua Umum Peradi 2005-2010.

2010 Otto Hasibuan kembali terpilih menjadi Ketua Umum Peradi 2010-2015

25 Juni 2010 Ketua MA Harifin Tumpa menyaksikan kesepakatan MoU organisasi tunggal advokat antara beberapa organisasi advokat. Lalu lahirnya Keputusan Harifin Tumpa yang dituangkan lewat Surat KMA Nomor 089/KMA/VI/2010 yaitu hanya advokat Peradi yang bisa bersidang di pengadilan.

“Berdasarkan Pasal 28 UU Advokat itu, hanya satu organisasi advokat yang diakui,” kata Harifin saat berbincang dengan wartawan, yang di lansir dari laman resmi detik pada Selasa (29/9/2015) pagi.

Keputusan Harifin Tumpa ini menuai gugatan organisasi advokat lain yang tidak terima.

25 September 2015 Ketua MA Hatta Ali membuat aturan baru yaitu mengeluarkan surat KMA Nomor 73/KMA/HK.01/IX/2015 untuk menganulir SK KMA yang dibuat Harifin Tumpa. Intinya mengatur seluruh calon advokat dari organisasi mana pun bisa disumpah oleh Ketua Pengadilan Tinggi di seluruh Indonesia.

Maret 2015 Munas Peradi digelar untuk memilih Ketua Umum Peradi 2015-2020. Terdapat tujuh calon ketua umum DPN Peradi, yakni Juniver Girsang, Hasanuddin Nasution, Humprey R Djemat, Luhut MP Pangaribuan, James Purba, dan Fauzie Yusuf Hasibua

Namun Munas ricuh sehingga Munas tidak dilanjutkan.

  • Bagikan